Minggu, 13 Juni 2010

SOAL UAS SEMESTER 4 PART 2

SOAL UAS d4  kebidanan 2008
SOAL   IKM
1.     1.   Pengembangan PSM, kecuali…
a.       Eksternal approach
b.       SMD
c.        Bottom up planning
d.       Dengan pendekat
e.         
f.        an edukatif
g.        Bekerja bersama masyarakat
2.       2. Program kesehatan yg terkait dlm status KIA antara lain adalah asuhan nifas n pasca salin yg mana pada kunjungan pertama dilakukan antara lain adalah…
1.       Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
2.       Pemberian ASI awal
3.       Menjaga bayi tetap sehat dg cara mencegah hipotermia
4.       Mendeteksi dan merawat penyebab lain dari perdarahan
3.      3. Di bawah ini yang benar mengenai variable epidemiologi deskriptif  ‘person’ adalah….
a.       Paritas
b.       Umur
c.        Gol darah
d.       Penghasilan
e.        BSTK
4.       4.Pembinaan PSM guna meningkatkan….
a.       Pengetahuan
b.       Sikap
c.        Perilaku
d.       Mengoptimalkan kemampuan masyarakat
e.        BSTK
5.       5.Strategi pembangunan kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010 kecuali…
a.       Pembang.nas berwawasan kesehatan
b.       Profesionalisme
c.        Sentralisasi
d.       JPKM
6.       6.Tahapan dlm PSM kecuali…
a.       Menumbuhkembangkan kemampuan masyarakat
b.                “                 “                dan atau mengembangkan PSM dlm pembangunan kesehatan
c.        Mengembangkan semangat gotong royong dlm pembangunan kesehatan
d.       Menumbuhkan rasa memiliki  ( sense of belonging )
e.        Bekerja sama masyarakat
7.       7.Keluarga sehat dilihat dari aspek social budaya meliputi, kecuali…
a.       Besarnya keluarga
b.       Struktur   keluarga
c.        Fungsi anak dalam keluarga
d.       Tingkat ekonomi
e.        BSTK

I Love You

Senin, 07 Juni 2010

Sepotong kisah tentang Rumah Mungilku..

Walaupun dia hanya berdiri dan hidup dalam sepetak kecil,,aku sungguh sangat menyayanginya..
Karena dulu..engkau bersamaku membangunnya..
Dengan susah payah, cucur keringat dan tetes air mata…
Rumah mungil yang sederhana,
Dengan aksen minimalis..dan pohon rindang yang menghiasi sekelilingnya…

Sampai suatu masa..kamu beranjak pergi,,
Dalam rangkaian pesan yang tak sempurna ku cerna..
Dalam susunan rasa yang terkoyak menyiksa…
Dalam suasana yang kau paksa aku untuk memahami…
Yang aku tahu, kamu menjanjikan kepulanganmu..

Rumah Mungilku…
Serasa seharusnya dan semestinya slalu ku rawat.. ku hias..
Agar esok saat engkau pulang, hanya nyaman yang kau rasa..
Untuk kau habiskan sisa hidupmu bersamaku..
Untuk rangkaian senyuman yang akan kita ukir selamanya…

Rumah mungilku..kini semakin tua…
Pohon-pohon rindang itu berakhir pergi..
Ketika hujan yang indah tak lagi menyejukkan atas kepergianmu..
Ketika kicau burung tak lagi menyapa, berganti rintih tangis kerinduan akan hadirmu..
 Terbawa sedihnya rumah mungilku sejak kepergianmu..
rumput tak lagi bergoyang dan sang bintang yang semakin meredup..

Walau sering badai datang untuk merubuhkan sendi2 rapuhnya,
Aku slalu mencoba menguatkannya..memperbaikinya semampuku…
Memegangnya sekuat tenaga..saat angin kuat berhembus..
Karena aku takkan membiarkannya terkikis waktu..
Sedikit demi sedikit hancur dan menghilang…

Terkadang datang seseorang menawarkan untuk membangun rumah mewah untukku tinggal bersamanya..
Namun…
Seseorang itu hanya menyakiti..rumah mungil tua yang slalu kujaga agar berdiri dengan tegaknya..
Mencoba membuang jauh engkau dan rumah mungilku..

Sering pula muncul seseorang-seseorang  yang lain, mengetuk pintu,
memohon dengan sangat untuk tinggal..
Sesal ku ketika aku berbaik hati membiarkannya tinggal dalam rumah mungilku..
Mungkin engkau merintih disana, menahan perih untuk hal ini…
Sesegera aku tersadar..dan menutup pintu rumah mungil tua kita…
Menguncinya rapat…
hingga dobrakan keras siapapun takkan mampu membuka pintu rumah mungilku..

Kuputuskan bahwa aku hanya akan membuka pintu rumah mungilku hanya untukmu..
Aku slalu memimpikan dimana saat aku membuka pintu,
Kau datang dengan senyuman yang membuatku tertegun,
Melihatmu beranjak mendekat,
Seiring bersamaku dalam rumah mungilku..
tinggal bersamaku…
Aku tahu candamu takkan pernah membuatku bosan,walo tiap hari kau ulang sama persis..
Aku tahu hujan indah akan hadir menyapa beriring,
Aku tahu goyang rumput kembali hadir kala mendengar senandungmu..
Aku tahu sinar sang bintang akan semakin pijar ketika kau memberi senyum kala saatnya tidur tiba..
Dan aku tahu aku takkan pernah sedikitpun jauh darimu..
selamanya…

Tapi..
Lain cerita bila kau tak pernah datang..
Aku tak pernah tahu cerita itu..
Tak tahu dan tak ingin tahu…

Untuk Rumah mungilku…
Aku memberinya nama..hati..

SOAL UAS SEMESTER 4 PART 1

ASKEB 4
15. bendungan asi terjadi pada hari ke berapa pasca persalinan…
1. 3-6 hari post partum
2. 1-2 hari pp
3. 2-5 hari pp
4. ¾ hari pp

16. Tanda-tanda dari payudara bengkak…
1. payudara tampak lebih merah dan mengkilat
2. terjadi demam
3. payudara terasa nyeri sekali
4. asi keluar lancar

17. pada masa kehamilan trimester 1 dapat terjadi…
a. mola hidatidosa
b. abortus provokatus
c. abortus prominens
d. partus prematurus eminent

PELAYANAN KB
15. IUD harus segera dicabut bila ibu dijumpai hal-hal sbb…
a. perdarahan pervaginam
b. pengeluaran cairan putih berlebihan, berbau dan nyeri atas sympisis
c. ada keluhan tidak nyaman saat berhubungan sex
d. ada perubahansiklus haid pada 3 bulan pertama
e. spooting

16. ibu titi dianjurkan control untuk pertama kali pada…
a. 1 minggu pasca pemasangan
b. 1 bulan sejak pemasangan
c. 6 minggu pasca pemasangan
d. apabila ada keluhan
e. 3 bulan

17. kelebihan CuT 380A mengenai cara kerjanya perlu disampaikan pada ibu…
a. Ion-ion Cu akan menghentikan ovulasi
b. Ion-ion Cu akan menghentikan lender servix dan menghambat nidasi
c. efektifitas 100%
d. lebih nyaman bagi pasien
e. tidak membuat pusing

18. pemasangan AKDR yang paling tepat pada ibu titi adalah…
a. hari 1 setelah haid berhenti
b. hari pertama haid
c. pasca abortus infeksius
d. segera setelah melahirkan
e. dalam 40 hari post pastum

19. jenis AKDR dibawah ini yang memiliki efek samping hormonal adalah
a. lipper loop
b. CuT – 380 A
c. MI-Cu-250
d. CuT dengan progestin
e. Nova T

ASKEB 5
15. Latar belakang penerapan MTBS di puskesmas adalah sbb, kecuali…
a. setiap tahun 12 juta anak di dunia meninggal sebelum mencapai umur 3 bulan
b. 70% meninggal kerena pneumonia, diare, malaria, campak dan malnutrisi
c. kemampuan petugas puskesmas sudah memadai dalam penanganan dan pengobatan
d. penanganan penyekit pada anak di puskesmas selama ini menggunakan pedoman terpisah untuk mesing-masing penyakit. Sehingga mengalami kesulitan jika menangani anak yang menderita bberbagain penyakit
e. ada cara-cara efektif yang dapat dikerjakan untuk mencegah sebagaian besar kematian balita

IKM
15. yang merupakan inti kegiatan manajemen dalam pengefektifan pelananan kebidanan komunitas adalah …
a. perencanaan
b. pengorgaisasian
c. pelaksanaan
d. monitoring dan evaluasi
e. pencatatan pelaporan

17. hasil dari proses pelaksanaan yang sekaligus sebagai masukan untuk system tersebut, adalah…
a. input
b. output
c impact
d. feed back
e. environtment

75. observasi partisipasi adalah mengadakan observasi dengan cara mengikuti seluruh kegiatan responden dari banyak digunakan untuk penetitian antropologis, SEBAB denagn metopde observasi dapat mengukur kebenaran jawaban pada wawancara

76. seorang peneliti menggunakan data statistic hasil riset dari surat kabar dan majalah termasuk mencari data primer SEBAB data diskret adalah data yang menunjukan unk waktu tertentu

77. spesifisitas adalah kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil tes positif danb benar sakit SEBAB spesifitas dan sensitifitas adalah ukuran yang dicapai sebagai parameter kualitas suatu tes diagnostic

78. polusi kimia di udara terbuka termasuk dalam common source epidemic SEBAB common source epidemic terjadi dalam waktu yang sangat lama

79. suatu penyakit atau keadaan tidak dapat dikatakan sebagai pandemic hanya karena menewaskan banyak orang SEBAB salah satu penyakit yang dikenal sebagai kanker menimbulkan angka kematian yang tinggi, digolongkan sebagai pandemic.

80. pehyebaran penyakit bervariasi dari suatu daerah dengan daerah lainnya SEBAB untuk dapat mengetahui dan mengontrol penyakit perlu dimiliki pengetahuan tentang …..penampakannya di dalam suatu populasi.

Senin, 31 Mei 2010

Menjadi Diriku



Tak seperti bintang di langit
Tak seperti indah pelangi
Karena diriku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Dan wajahku memang begini
Sikapku jelas tak sempurna
Ku akui ku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Kamis, 27 Mei 2010

soal EPIDEMIOLOGI bab 7



1. Diagnosa yang menujukkan tanda- tanda suatu penyakit menunjukkan diagnosa…………… B
a. Diagnosa Differensial
b. Diagnosa Simptomatis
c. Diagnosa Kausatif
d. Diagnosa Pasti
e. Diagnosa Sementara
2. Tujuan screening test yaitu deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas sebab dengan ditemukan penderita tanpa gejala dapat dilakukan pengobatan secara tuntas hingga mudah disembunyikan.(A)
3. Secara umum sasaran screening merupakan penyakit menular SEBAB Sasarannya screening seperti penyakit bakteri, virus, non infeksi. D
4. Screening penyakit TBC termasuk screening missal SEBAB Screening massal merupakan screening yang dilakukan terhadap orang-orang yang mempunyai resiko C
5. Dibawah ini merupakan lokasi screening, kecuali
a. Lapangan
b. Rumah sakit
c. Rumah sakit khusus
d. A dan C benar
e. BSTK E
6. Pemeriksaan screening tahap pertama dilakukan terhadap kelompok penduduk yang tidak mempunyai resiko tinggi SEBAB Bila hasil positif dilakukan pemeriksaan tahap kedua D
7. Pemeriksaan diagnostic dilakukan pada tahap akhir SEBAB Pemeriksaan yang bila hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapat pengobatan. B

8. Pemeriksaan screening harus dapat dilakukan
1. Dengan cepat
2. Tidak mahal
3. Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan
4. Membahayakan bagi yang diperiksa A
9. Dibawah ini merupakan kriteria dalam menilai hasil screening
1. Validasi
2. Sensitivitas
3. Reliabilitas
4. Spesivisitas B
10. Jumlah orang yang diklasifikasikan sebagai sakit dibagi dengan jumlah total orang sehat disebut
a. Validasi
b. Yield
c. Sensitifitas
d. Reliabilitas
e. Spesifisitas C
11. Kelemahan penilai hasil screening dengan menghitung sensitivitas dan spesifisitas adalah
1. Tidak semua hasil pemeriksaan dapat dinyatakan dengan tegas “ya” atau “tidak”
2. Hasilnya dipengaruhi prevalensi
3. Perhitungan tidak sesuai kenyataan
4. Perhitungan akurat
12. Upaya untuk meningkatkan reliabilitas kecuali
1. Standarisasi cara screening
2. Pengamatan yang cermat pada setiap nilai pengamatan
3. Peningkatan keterampilan pengamat
4. Menggunakan satu pengamatan untuk setiap pengamatan A


13. Jumlah individu hasil skrining tes negatif dan benar tidak sakit. Hal ini dikatakan.. (D)
1. True positive
2. False negative
3. False positive
4. True negative
14. Proporsi test yang positif dalam suatu test screening yang benar-benar positif dinamakan? (D)
a. Proporsi positif semu.
b. Proporsi negatif semu.
c. positife predictiv value.
d. Nilai prediktif.
e. False positif
15. Screening dilakukan dengan pemeriksaan? (C)
1. Pemeriksaan fisik
2. Palpasi ginekologis.
3. Pemeriksaan
4. Infeksi porsio.
16. Komponen dari nilai prediktif? (D)
1. Proporsi positif semu.
2. Prevalens.
3. Proporsi semu.
4. Penambahan prediktive value.
17. Faktor yang mempengaruhi derajad screening kecuali: (A)
a. Derajad spesifitas tes
b. Prevalensi penyakit.
c. Frekuensi penyaringan.
d. Konsep sehat masyarakat sehari-hari
e. Derajad sensivitas tes
18. Sifat tes diagnostik meliputi di bawah ini: (B)
1. Sedarhana dan murah.
2. Measurable.
3. Realible.
4. Timely.
19. Salah satu peralatan yang digunakan screening adalah USG gunanyauntuk mendeteksi? (D)
a. CA mamae
b. TBC
c. Jantung korener
d. Gastritis
e. Diabetes militus
20. Salah satu interfensi terapetik untuk screening tumbang anak adalah: (A)
a. Memberi stimulai-stimulasi positif
b. Membiarkan tanpa memberi contoh
c. Tanpa pengawasan gizi
d. B & C benar
e. BSSD.

indikator epidemiologi

A.    Definisi Indikator
· Indikator adalah variabel yang membantu kita dalam mengukur perubahan-perubahan yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung (WHO, 1981).
· Indikator adalah statistik dari hal normatif yang menjadi perhatian kita yang dapat membantu kita dalam membuat penilaian ringkas, komprehensif dan berimbang terhadap kondisi-kondisi atau aspek-aspek penting dari suatu masyarakat (Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika serikat, 1969).
Dari definisi tersebut jelas bahwa indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status yang memungkinkan dilakukannnya pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Indikator adalah ukuran yang bersifat kuantitaif, dan umumnya terdiri atas pembilang (numerator) dan penyebut (denominator). Pembilang adalah jumlah kejadian yang sedang diukur sedangkan penyebut yang umum digunakan adalah besarnya populasi sasaran bersiko dalam kejadian yang bersangkutan.
B.   Persyaratan Indikator
Persyaratan yang harus dipertimbangkan dalam merumuskan indikator meliputi
a. S (Simple) : Sederhana, artinya indikator yang ditetapkan sedapat mungkin sederhana dalam pengumpulan data maupun dalam rumus perhitungan.
b. M (Measurable) : Dapat diukur, artinya indikator yang ditetapkan harus mempresentasikan informasi dan jelas ukurannya.
c. A (Atributtable) : Bermanfaat, artinya indikator yang ditetapkan harus bermanfaat untuk kepentingan pengambilan keputusan.
d. R (Reliable) : Dapat dipercaya, artinya indikator yang ditetapkan harus dapat didukung oleh pengumpulan data yang baik, benar, dan teliti.
e. T (Timely) : Tepat waktu, artinya indikator yang ditetapkan harus dapat didukung oleh pengumpulan dan pengolahan data serta pengemasan informasi yang waktunya sesuai dengan saat pengambilan keputusan dilakukan.
C. Jenis Indikator
Jenis indikator meliputi:
1. Indikator absolut: Adalah indikator yang berupa pembilang saja, yaitu jumlah dari suatu hal atau kejadian, biasa digunakan untuk sesuatu yang sangat jarang.
2. Indikator Proporsi: Adalah indikator yang nilai resultantenya dinyatakan dengan persen karena pembilangnya merupakan bagian dari penyebut.
3. Indikator angka atau rasio adalah ukuran dasar yang digunakan untuk melihat kejadian penyakit karena angka merupakan ukuran yang paling jelas menunjukkan probabilitas atau resiko dari penyakit dalam suatu masyarakat selama periode tertentu.
4. Indikator komposit adalah indikator yang memiliki ukuran–ukuran yang multidimensional yang merupakan gabungan dari sejumlah indikator.

D.   Klasifikasi Indikator
a. Indikator masukan dan proses
Indikator yang terdiri atas indikator-indikator pelayanan kesehatan, indikator-indikator sumber daya kesehatan, indikator-indikator manajemen kesehatan, dan indikator-indikator kontribusi sektor-sektor terkait.
b. Indikator hasil antara
Indikator ini terdiri atas indikator-indikator ketiga pilar yang mempengaruhi hasil akhir, yaitu indikator indikator keadaaan lingkungan , indikator-indikator perilaku hidup masyarakat, serta indikator-indikator akses dan mutu pelayanan kesehatan.
c. Indikator Hasil Akhir yaitu derajat kesehatan
Indikator hasil akhir yang paling akhir adalah indikator-indikator mortalitas, yang dipengaruhi oleh indikator-indikator morbiditas dan indikator-indikator status gizi.
Indikator keberhasilan suatu program meliputi :


1· Indikator Internal
Indikator internal merupakan indikator yang meliputi input, proses, dan output.
a. Input meliputi :
- Men : suatu program dikatakan berhasil jika ada/tersedia sumberdaya manusia yang menjalankannya.
- Metode : suatu program dikatakan berhasil jika ada/tersedia cara/strategi yang terencana dengan baik untuk menjalankannya.
- Money : suatu program dikatakan berhasil jika ada/tersedia dana untuk menjalankannya.
- Material : suatu program dikatakan berhasil jika ada/tersedia alat dan sarana untuk menjalankannya.
b. Proses
Pelayanan atau interaksi yang benar antara penyelenggara dengan klien atau pasien yang didokumentasi. Proses menuju bagaimana seharusnya penyelenggara memperlakukan pasien atau kliennya (Sukarni, 1994).
c. Output
Kuantitas:
Berapa banyak konsep ibni digunakan untuk mengukur ketersediaan (availability), accessibility, dan kegunaan pelayanan (Sukarni, 1994).
Kualitas:
Sifat yang esensial. Kualitas untuk mengukur mutu struktur organisasi dan proses atau pelayanan (Sukarni, 1994).


2· Indikator Eksternal
a. Outcome
Hasil akhir dari perawatan, diukur dalam istilah mati, penyakit, kurang gizi, tumbuh kembang, fertilitas, disability, discomfort, dissatisfection. Outcome mengukur nilai keberhasilan dari suatu sistem yang mempengaruhi kesehatan seseorang atau penduduk (Sukarni, 1994).
b. Impact
Dampak yang ditimbulkan secara tidak langsung dari hasil akhir yang telah didapatkan.
E.     Human Develeopment Index ( HDI)
The human development index (HDI) adalah suatu indikator komposit yang mengukur rata-rata pendapatan pada suatu negara dalam tiga dimensi dasar pekermbangan manusia, yaitu status kesehatan, pendidikan, dan perekonomian (2005 Human Development Report, pp.214, United Nations).
Human Development Index (HDI) yang diterbitkan oleh United Nation Development Program setiap tahunnya, menempatkan Indonesia pada ranking yang ke 105 di antara 180 negara di dunia (1999). Saat ini Indonesia berada di ranking ke 110 di antara 162 negara (2002). Sedangkan Vietnam yang pada tahun 1995 berada di ranking ke 117, Sekarang berada di ranking ke 95 di antara 162 negara 4. HDI Vietnam saat ini lebih baik dari Indonesia.
Tiga domain utama yang dinilai pada HDI tersebut di atas, yaitu:
1. Kesehatan
2. Pendidikan
3. Ekonomi
Ketiga domain tersebut saling berinteraksi dan berinterrelasi satu dengan yang lainnya. Dapat dimengerti bahwa, tanpa kesehatan yang baik, pendidikan tidak mungkin dapat berjalan dengan baik, tanpa kesehatan yang baik dan pendidikan yang baik mustahil ekonomi keluarga masyarakat dapat membaik pula. Tanpa kesehatan dan pendidikan yang baik/prima, ekonomi kita kelak hanya merupakan “ekonomi kaki lima”. Namun sebaliknya pula, tanpa ekonomi yang kuat, kesehatan dan pendidikan keluarga/masyarakat pun tidak mungkin dapat membaik. Yang jelas disini bahwa HDI merupakan "cermin dari kecerdasan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa”. HDI merupakan tolak ukur dari masyarakat madani. Masyarakat yang kita idam-idamkan bersama, yaitu suatu tatanan masyarakat modern (masyarakat yang dapat menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana hidupnya), masyarakat yang berbudaya, masyarakat yang beradab (sehat fisik, mental dan sosialnya), dan masyarakat yang beragama.
1. Kesehatan
Kesehatan merupakan dan harus dapat menjadi salah satu tolak ukur utama dari pembangunan dan kesejahteraan nasional suatu bangsa. Bukan hanya sebagai tolak ukur marginal/sampingan dari pembangunan suatu bangsa dan negara. Karena kesehatan, hidup sehat adalah hak asasi manusia.
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan, penilaian secara teratur dan terus menerus terhadap seluruh aspek pengelolaan program yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan secara mutlak perlu. Demikian pula pengawasan dan pengendalian. Kegiatan yang dimaksudkan antara lain, untuk membandinngkan kegiatan yang ada deengan keadaan yang seharusnya dicapai. Indikator indikator penilaian dikelompokkan sebagai berikut :
1. Indikator untuk perkembangan keadaan umum dan lingkungan
a. Indikator tentang kesepakatan kebijaksanaan (political will) untuk menyelenggarakan pembangunan kesehatan, antara lain adalah dicantumkannya bidang kesehatan dalam GBHN dan adanya peraturan perundang-undangan dibidang kesehatan. Disamping itu kebijaksanaan pembangunan dibidang kesehatan telah lebih mantap dan kerjasama internasional lebih meningkat.
b. Indikator tentang upaya di luar kesehatan yang berkaitan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan, antara lain adalah pemerataan pembangunan, tingkat kepandaian membaca dan menulis, pendapatan, peningkatan sumber daya biaya, dan besarnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan desa. Tingkat kecerdasan penduduk antara lain diukur dengan tingkat pendidikan wanita. Diharapkan terdapat penurunan angka buta huruf dari sekitar 50 persen pada tahun 1976 menjadi 25 % pada tahun 2000. Peningkatan pendidikan golongan wanita mempunyai kaitan dengan peningkatan kesehatan bayi dan anak.
2. Indikator yang berhubungan dengan derajat kesehatan
Indikator ini antara lain, umur harapan hidup waktu lahir, angka kematian bayi dan balita, status gizi dan angka kesakitan. Pada tahun 2000 indikattor- indikator ini dapat diperinci lebih lanjut sebagai berikut :
a. Umur harapan hidup waktu lahir sekurang-kurangnya 65 tahun
b. Angka kematian bayi setinggi-tingginya adalah 46,4 per 1000 kelahiran hidup sedang angka kematian anak balita setinggi-tinggintya adalah 9 per 1000 anak balita
c. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan 2500 gram atau kurang berjumlah setinggi-tingginya 7%. Anak umur 3 tahun yang mempunyai berat badan dibawah 1,5 kg setinggi – tingginya 15%. Penderita KKP berjumlah sekitar 15%. Prevalensi xerophthalmia pada anak balita dan anak anemia gizi pada golongan rawan masing-masing turun sebanyak 70%. Jumlah penderita gondok endemik berkurang 80%. Jumlah anak sekolah dasar yang pada saat lulus berat badannya dibawah standar menurun sebanyak 50%
d. Angka kesakitan dan atau kematian yang disebabkan penyakit menular menurun menjadi 25-50% dari keadaan tahun 1980. Angka kesakitan karena diare setinggi-tingginya adalah 200 per 1000 penduduk. Daerah dengan kejadian malaria yang tinggi dipulau jawa dan bali akan berkurang 75%. Dengan demikian, tinggal sekitar 20 kecamatan mengalami kejadian malaria. Di daerah prioritas luar pulau Jawa dan Bali, dengan dilakukan tindakan penyemprotan dengan racun serangga dan pengobatan, diperkirakan angka kesakitan malaria menjadi 2%. Untuk daerah di luar pulau Jawa dan Bali, yang hanya mendapat tindakan pengobatan, angka kesakitan malaria menjadi sekitar 5-10 % pada tahun 2000
e. Angka kesakitan penyakit tuberkulosis paru-paru adalah kurang dari 2 per 1000 penduduk
f.Angka kesakitan dan kematian tetanus neonatorum adalah 1 per 1000 kelahiran
g. Jumlah penderita kelainan jiwa (psikosa) 1-3 per 1000 penduduk, dean jumlah penderita dengan gangguan jiwa yang relatif ringan (neurosa) dan gangguan perilaku 20-60 per 1000 penduduk.
3. Indikator yang berhubungan dengan upaya kesehatan. Indikator ini antara lain :
a. Tersedianya sumber tenaga, biaya dan perlengkapan
b. Penggunaan serta mutu pelayannan kesehatan
c. Pencakupan upaya kesehatan yang meliputi pencakupan imunisasi, pencakupan pertolongan persalinan, serta pencakupan penyediaan air bersih dan pembuangan kotoran.
1) Angka pencakupan imunisasi untuk anak-anak dibawah 14 bulan adalah 89 %
2) Angka pencakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih adalah 89 %
3) Angka pencakupan penyediaan air bersih adalah 100 %. Seluruh penduduk telah terjangkau oleh pembuangan dan pengolahan kotoran dan bahan buangan rumah tangga.
4) Dalam peningkatan pelayanan rumah sakit diusahakan pada tahun 2000 peningkatan mutu dan jenis pelayanan serta cara menejemen Rumah Sakit.
5) Kebutuhan obat esensial dapat dipenuhi oleh pemerintah.
WHO menyarankan agar sebagai indicator kesehatan penduduk harus mengacu pada empat hal sebagai berikut:
a. Melihat ada tidaknya kelainan patosiologis pada seseorang
b. Mengukur kemampuan fisik
c. Penilaian atas kesehatan sendiri
d. Indeks massa tubuhe (BMI)
Strategi pembangunan kesehatan untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010 adalah
1. Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan. Semua kebijakan pembangunan nasional yang sedang dan atau akan diselenggarakan harus memiliki wawasan kesehatan. Artinya program pembangunan nasional tersebut harus memberikan kontribusi yang positif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terhadap dua hal. Pertama, terhadap pembentukkan lingkungan sehat. Kedua, terhadap pembentukkan peilaku sehat.
2. Profesionalisme. Profesionalisme dilaksanakan melalui penerapan kemajuan ilmu dan teknologi, serta melalui penerapan nilai-nilai moral dan etika.
3. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Untuk memantapkan kemandirian masyarakat dalam pola hidup sehat, perlu digalang peran serta masyarakat yang seluas-luasnya, termasuk peran serta dalam pembiayaan. JPKM yang pada dasarnya merupakan penataan sub sistem pembiayaan kesehatan dalam bentuk mobilisasi sumber dana masyarakat, adalah wujud nyata dari peran serta masyarakat tersebut, yang apabila berhasil dilaksanakan akan mempunyai peranan yang besar pula dalam turut mempercepat pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.
4. Desentralisasi. Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan, penyelenggaraan pelbagai upaya kesehatan harus berangkat dari masalah dan potensi spesifik masing-masing daerah.
Adapun sasaran pembangunan kesehatan pada akhir tahun 2007 diarahkan untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat, terutama penduduk miskin, terhadap pelayanan kesehatan yang antara lain tercermin pada beberapa indikator sebagai berikut:
1. Meningkatnya proporsi keluarga yang berperilaku hidup bersih dan sehat;
2. Meningkatnya proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap sanitasi dan air bersih;
3. Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih;
4. Meningkatnya cakupan pelayanan antenatal, postnatal dan neonatal;
5. Meningkatnya tingkat kunjungan (visit rate) penduduk miskin ke Puskesmas;
6. Meningkatnya tingkat kunjungan (visit rate) penduduk miskin ke rumah sakit;
7. Meningkatnya cakupan imunisasi;
8. Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit malaria, demam berdarah dengue (DBD), tuberkulosis paru, diare, dan HIV/AIDS;
9. Menurunnya prevalensi kurang gizi pada balita;
10. Meningkatnya pemerataan tenaga kesehatan;
11. Meningkatnya ketersediaan obat esensial nasional;
12. Meningkatnya cakupan pemeriksaan sarana produksi dan distribusi produk terapetik/obat, obat tradisional, kosmetik, perbekalan kesehatan rumah tangga, produk komplemen dan produk pangan;
13. Meningkatnya penelitian dan pengembangan tanaman obat asli Indonesia;
14. Meningkatnya jumlah peraturan dan perundang-undangan di bidang pembangunan kesehatan yang ditetapkan; dan
15. Meningkatnya jumlah penelitian dan pengembangan di bidang pembangunan kesehatan.
Berdasarkan Peraturan Presiden No.7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, telah ditetapkan bahwa sasaran pembangunan kesehatan pada akhir tahun 2009 adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pencapaian sasaran tersebut tercermin dari indikator dampak pembangunan kesehatan, yaitu :
a. Meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun
b. Menurunnya angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup
c. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup
d. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak anak balita dari 25,8% menjadi 20%.


2. Pendidikan
Dalam laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), yang dirilis pada Kamis (29/11/07) menunjukkan, peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. Education development index (EDI) Indonesia adalah 0.935, di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965). Rendahnya mutu modal manusia Indonesia terutama disebabkan sistem pendidikan Indonesia yang miskin visi dan lemah konsep.
a. Mutu dan Relevansi Pendidikan
Dalam kaitan dengan mutu dan relevansi pendidikan, beberapa indikator keberhasilan pendidikan perlu dimonitor sebagai kinerja Dewan Pendidikan. Mutu dapat diukur dari seberapa efektif pengelolaan sistem pendidikan, melalui MBS, dapat memberikan efek terhadap prestasi belajar siswa secara optimal. Yang paling tepat untuk mengukur mutu pendidikan sebenarnya adalah hasil evaluasi ujian akhir yang diukur melalui Ujian Akhir Nasional, namun kegiatan monitoring yang dilakukan ini tidak secara langsung mengukur output pendidikan dalam pengertian prestasi belajar siswa secara akademis. Yang dimaksud dengan relevansi adalah, seberapa jauh hasil-hasil pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dalam berbagai bidang, misalnya, penghasilan lulusan, keterampilan lulusan, pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran, dan sebagainya.
Namun, sistem ini mungkin lebih tepat untuk memantau sejauh mana Dewan Pendidikan dapat memberikan pengaruh atau dorongan terhadap situasi belajar yang kondusif bagi peningkatan mutu serta relevansi pendidikan.
Beberapa indikator mutu dan relevansi pendidikan yang dapat dipantau oleh sistem ini antara lain adalah sebagai berikut:
(1) Peningkatan persentase lulusan terhadap jumlah murid tingkat akhir yang
mengikuti ujian
(2) Pendayagunaan sarana-prasarana belajar yang lebih optimal di sekolah-
sekolah (seperti buku pelajaran, perpusatakaan, alat pelajaran, media
pendidikan, dan pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar.
(3) Peningkatan kualitas guru yang diukur dari rata-rata tingkat pendidikan
guru dan jumlah penataran yang diikuti.
(4) Persentase siswa pendidikan pra sekolah terhadap jumlah penduduk usia
pra sekolah.
b. Indikator Pemerataan dan Perluasan
Pemerataan dan perluasan pendidikan sebaiknya bukan hanya diukur dari seberapa banyak jumlah sarana-prasarana belajar tetapi juga menyangkut persebaran sarana-prasarana pendidikan antarsekolah dan antardaerah. Hal ini akan menyangkut prinsip keadilan di dalam pendidikan di mana setiap anak-anak di manapun dapat memperoleh akses terhadap sarana pendidikan yang sama. Pemerataan dan perluasan pendidikan juga akan berkaitan dengan tingkat partisipasi pendidikan bagi semua anak usia sekolah dalam satuan-satuan pendidikan yang ada. Partisipasi pendidikan itu merupakan indikator pendidikan yang digunakan oleh semua negara, sehingga dapat dibandingkan antardaerah dan bahkan antar negara.
Beberapa indikator pemerataan dan perluasan pendidikan yang dapat dipantau Dewan Pendidikan adalah sebagai berikut.
(1) Peningkatan angka partisipasi kasar (APK), yaitu persentase jumlah murid pada suatu satuan pendidikan terhadap jumlah penduduk usia yang berkaitan, baik secara agregat maupun menurut karakteristik siswa.
(2) Angka partisipasi Murni (APM), yaitu persentase jumlah murid pada usia sekolah tertentu terhadap jumlah penduduk usia sekolah pada suatu satuan pendidikan yang bersangkutan, baik secara agregat maupun menurut karakteristik siswa.
(3) Angka Partisipasi Sekolah (APS) yaitu jumlah siswa pada kelompok usia tertentu yang terrepresentasikan pada beberapa satuan pendidikan, baik secara agregat maupun menurut karakteristik siswa.
(4) Jumlah penerima beasiswa pada suatu satuan pendidikan atau suatu daerah tertentu, dengan tanpa membedakan beberapa variabel karakteristik siswa seperti: jenis kelamin, daerah, status sosial-ekonomi, dan sejenisnya.
(5) Kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan pada setiap satuan pendidikan, baik yang bersumber dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dari masyarakat.
c. Indikator Manajemen Pendidikan
Sampai saat ini masalah yang paling mendasar dalam sistem pendidikan nasional adalah efisiensi dalam manajemen pendidikan. Oleh karena itu berbagai ukuran efisiensi dan optimasi dalam manajemen pendidikan perlu dipantau dan dievaluasi secara terus-menerus dan dalam waktu yang teratur. Mengingat Dewan Pendidikan berkaitan secara langsung dengan manajemen pendidikan baik pada satuan pendidikan maupun pada daerah-daerah otonom, maka ukuran-ukuran efisiensi dan efektivitas pendidikan perlu dijadikan indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja badan-badan tersebut.
Beberapa indikator manajemen pendidikan yang dapat dipantau secara terus-menerus adalah sebagai berikut.
1) Besarnya (kenaikan) anggaran pendidikan (sekolah dan daerah otonom) yang diperoleh dari sumber-sumber pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat termasuk sumber lain seperti dunia usaha.
2) Kemampuan pengadaan sarana-prasarana pendidikan di sekolah yang diperoleh dari masyarakat.
3) Kemampuan pengadaan sumberdaya manusia (guru dan tenaga kependidikan) yang diperoleh dari sumber masyarakat.
4) Perubahan dalam tingkat efisiensi pendayagunaan tenaga guru di sekolah yang diukur dengan tingkat “turn-over”.
(5) Penurunan persentase mengulang kelas rata-rata pada suatu satuan pendidikan tertentu
(6) Penurunan persentase putus sekolah rata-rata pada suatu satuan pendidikan
(7) Peningkatan angka melanjutkan sekolah (transition rate) dari suatu sekolah ke sekolah pada jenjang pendidikan berikutnya.
3. Ekonomi
a. APBN
Penentuan target penerimaan pajak dalam APBN selama ini tidak memadai lagi untuk menghadapi kondisi pengeluaran negara yang meningkat lebih cepat sehingga mengakibatkan semakin besarnya fiscal gap dan defisit anggaran. Untuk mengimbangi peningkatan pengeluaran negara tersebut maka diperlukan peningkatan penerimaan pajak dimana hal ini masih dimungkinkan mengingat angka tax ratio Indonesia masih rendah dan dibawah rata-rata tax ratio negara-negara berkembang di dunia.
Perhitungan potensi PPh menggunakan data : (i) Penghasilan rumah tangga Indonesia yang diperoleh dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2005, (ii) Laba usaha perusahaan BUMN dan perusahaan listing, (iii) Produk Domestik Bruto (PDB); dan (iv) Tabel Input-Output (I-O). Penggunaan data Susenas 2005 dan laba usaha perusahaan diperlukan untuk menghitung penghasilan kena pajak per lapisan dan tax base per lapisan sehingga dapat dihitung potensi PPh tiap lapisan.
· Suku Bunga
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari Selasa, 5 September 2006, memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps dari 11,75% menjadi 11,25%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan pembahasan yang mendalam selama dua hari berturut-turut, pada tanggal 4 dan 5 September 2006 yang mengevaluasi kondisi makroekonomi, hasil-hasil berbagai survei ekspektasi konsumen dan produsen, prospek ekonomi moneter dalam dan luar negeri. Kondisi kestabilan makroekonomi ini diantaranya diperkuat oleh terjaganya inflasi yang masih dalam tren menurun dan pada Agustus 2006 tercatat 0,33% (mtm) atau 14,90% (yoy).
· Kurs Rupiah
Kurs Rupiah merupakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang berarti menjelaskan kedudukan ekonomi Indonesia terhadap negara lain di dunia.
· Harga Minyak
Harga rata-rata basket minyak OPEC pada bulan Agustus mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun. Pada awal Juli 2006 minyak OPEC diperdagangkan di level US$69,97/barel, dan sempat mengalami kenaikan ke level US$72.67/barel pada 8 Agustus 2006, di akhir Agustus menurun ke level US$65,18/barel bahkan pada perdagangan tanggal 5 September kembali menurun ke level US$63,54/barel. Sementara itu, harga minyak dunia menurut Nymex pada tanggal 1 Agustus 2006 diperdagangkan pada level US$74,91/barel. Sempat mengalami peningkatan ke level US$76,98/barel pada 8 Agustus yang merupakan harga tertinggi selama perdagangan Agustus, dan kemudian mengalami penurunan mencapai level US$70,26/barel pada akhir Agustus bahkan pada tanggal 5 September diperdagangkan di level US$67,50/barel.
· IHSG
Indeks mengalami kenaikan antara lain dipengaruhi oleh: (1) kondisi perekonomian yang semakin kondusif yang antara lain diindikasikan dengan: nilai tukar yang relatif stabil di level Rp9.000-an/US$, inflasi yang relatif rendah, pertumbuhan ekonomi kuartal II yang relatif membaik sebesar 5,2% dari 4,6% di kuartal I, dan penurunan tingkat suku bunga BI Rate (2) krisis Timur Tengah yang telah berlalu dengan ditandai oleh penurunan harga minyak dunia.
· Cadangan Devisa
Tercapainya stabilitas nilai tukar terutama ditopang oleh membaiknya indikator makroekonomi, masih menariknya imbal hasil rupiah, terjaganya faktor risiko, serta berkurangnya tekanan kenaikan suku bunga di AS. Perkembangan positif pada faktor-faktor tersebut, telah menjadi pendorong masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik, meskipun diwarnai terjadinya pergeseran penanaman asing dari SBI ke SUN dan saham. Dengan perkembangan yang positif ini cadangan devisa meningkat pada bulan ini.
· Inflasi
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok-kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,35 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,30 persen, kelompok sandang 0,35 persen, kelompok kesehatan 0,33 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 4,77 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,01 persen. Sedangkan kelompok bahan makanan mengalami penurunan indeks sebesar 0,34 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga selama bulan Agustus 2006 antara lain: beras, uang sekolah SLTA, uang kuliah Akademi/PT, uang sekolah SD dan SLTP, ikan segar, minyak goreng, buku bacaan/pelajaran, kacang panjang, ketimun, tempe, melon, mie, nasi dengan lauk, sate, rokok kretek filter, kayu lapis, tarif kontrak rumah, pasir, tarif sewa rumah, upah tukang bukan mandor, minyak tanah, biaya keamanan, emas perhiasan, tarif rumah sakit dan uang sekolah TK. Komoditas yang mengalami penurunan harga adalah: bawang merah, cabe merah, bawang putih, cabe rawit, telur ayam ras, tomat sayur, bayam, jeruk, kelapa, semen dan bensin.
· Ekspor Impor
Penjualan barang ke luar negeri akan meningkatkan penghasilan devisa Indonesia. Dengan demikian, ekomoni Indonesia akan menguat. Sedangkan bila Indonesia terlalu banyak membeli dari luar negeri, maka devisa Indonesia akan menurun.
F.     Perolehan Data
1. Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya
· Data Primer
Data primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun organisasi. Contoh : Mewawancarai langsung penonton bioskop 21 untuk meneliti preferensi konsumen bioskop.
· Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data statistik hasil riset dari surat kabar atau majalah.
2. Macam-Macam Data Berdasarkan Sumber Data
· Data Internal
Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal. Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi, dan lain sebagainya.
· Data Eksternal
Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk pada konsumen, tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.
3. Klasifikasi Dara Berdasarkan Jenis Datanya
· Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Misalnya adalah jumlah pembeli saat hari raya idul adha, tinggi badan siswa kelas 3 ips 2, dan lain-lain.
· Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna. Contohnya seperti persepsi konsumen terhadap botol air minum dalam kemasan, anggapan para ahli terhadap psikopat dan lain-lain.
4. Pembagian Jenis Data Berdasarkan Sifat Data
· Data Diskrit
Data diskrit adalah data yang nilainya adalah bilangan asli. Contohnya adalah berat badan ibu-ibu pkk sumber ayu, nilai rupiah dari waktu ke waktu, dan lain-sebagainya.
· Data Kontinyu
Data kontinyu adalah data yang nilainya ada pada suatu interval tertentu atau berada pada nilai yang satu ke nilai yang lainnya. Contohnya penggunaan kata sekitar, kurang lebih, kira-kira, dan sebagainya. Dinas pertanian daerah mengimpor bahan baku pabrik pupuk kurang lebih 850 ton.
5. Jenis-jenis Data Menurut Waktu Pengumpulannya
· Data Cross Section
Data cross-section adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu. Contohnya laporan keuangan per 31 desember 2006, data pelanggan PT. angin ribut bulan mei 2004, dan lain sebagainya.
· Data Time Series / Berkala
Data berkala adalah data yang datanya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau periode secara historis. Contoh data time series adalah data perkembangan nilai tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai 2006.